SPERMATOGENESIS
- INGGIT AMELLIA HARNUM
- Apr 29, 2025
- 2 min read
Updated: Dec 21, 2025
Spermatogenesis merupakan proses pembentukan sperma yang berlangsung secara terus menerus dengan artian bahwa seorang pria akan terus memproduksi spermanya hingga akhir hayatnya. Setiap hari seorang pria dapat memproduksi sperma kurang lebih berjumlah 20 juta sperma. Proses spermatogenesis terjadi di dalam organ testis yang juga dipengaruhi oleh interaksi hormon FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (Luteinizing hormone). Hormon FSH akan mendorong sel sertoli dalam tubulus seminiferus untuk bekerja menghasilkan nutrisi bagi perkembangan sperma. Hormon LH akan menstimuluskan sel-sel Leydig yang berada di ruang antar tubulus seminiferus untuk mensekresikan hormon Testosteron agar mendorong proses spermatogenesis untuk berjalan.

Proses pembentukan spermatozoa sebagai berikut:
Sel germinal primodial dalam embrio dalam testis akan melakukan pembelahan secara mitosis menjadi sel punca yang akan menjadi cikal bakal spermatogonium.
Setelah sel punca menjadi spermatogonium akibat pembelahan mitosis, maka spermatogonium akan membelah secara mitosis menjadi spermatosit primer.
Spermatosit primer akan membelah diri secara Meiosis I (proses pembelahan diri yang mengurangi jumlah kromosom dengan mula jumlah kromosom diploid (2n) menjadi haploid (n) , setengah dari jumlah kromosom diploid) menjadi 2 sel spermatosit sekunder bersifat haploid (n)
Setiap sel spermatosit sekunder melakukan pembelahan meiosis II dan menjadi 2 sel spermatid, yaitu calon spermatozoa yang belum memiliki ekor.
Sel-sel Spermatid akan berkembang menjadi spermatozoa yang lengkap
Spermiasi
Pertumbuhan sperma yang telah dewasa yang bergerak ke lumen tubulus seminiferus lalu ke testis dan dilanjutkan ke duktus eferen dan terakhir menuju epididimis. Berikut struktur sperma yang telah dewasa.

Struktur Spermatozoa
Kepala, bagian ini banyak mengandung kromosom haploid serta dilindung oleh Akrosom yang mengandung banyak enzim guna membantu sperma untuk menembus dinding ovum.
Bagian tengah, dikenal dengan leher sperma. Bagian ini banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi berupa ATP untuk menggerakkan ekor sperma (flagelum)
Bagian Ekor, berfungsi sebagai alat gerak sperma.
Fakta Penting: Proses spermatogenenis bukanlah sebuah proses yang berlangsung secara instans akan tetapi dalam sekali proses membutuhkan waktu kurang lebih mencapai 74 hari atau setara dengan 3 bulan untuk menjadi sperma yang sempurna. Selain itu, proses ini sangat sensitif terhadap panas. Testis terletak di dalam skrotum untuk menjaga suhu tetap 2°C hingga 3°C di bawah suhu tubuh. Jika testis terpapar suhu panas hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas sperma karena terjadinya stress oksidasi selama proes perkembagan spermatid. Hal ini mengakibatkan adanya kerusakan DNA dan juga penurunan kemampuan mortilitas (berenang ) sperma.
Memahami bahwa butuh waktu hampir 3 bulan untuk memproduksi sperma baru menyadarkan kita bahwa pilihan gaya hidup sehat hari ini baru akan terlihat hasilnya pada kualitas reproduksi tiga bulan ke depan
Pojok Diskusi!
Setelah membaca artikel diatas, berdiskusilah dengan teman Anda dan kemudian jawablah pertanyaan dibawah ini di kolom komentar ya...
"Seorang pasien pria melakukan pemeriksaan kesehatan dan ditemukan memiliki kadar hormon LH yang sangat rendah, namun kadar FSH dalam batas normal. Berdasarkan pemahamanmu mengenai mekanisme kontrol hormon, prediksikan dampak spesifik apa yang akan terjadi pada proses spermatogenesis pasien tersebut dan jelaskan alasannya!"
Sumber :
Lundy, S. D., & Sabanegh, E. S., Jr. (2021). The impact of lifestyle factors on male fertility. Translational Andrology and Urology, 10(3), 1367–1381. https://doi.org/10.21037/tau-20-1161



Nama: Rahman
Kelas: XI
Inilah dua dampak yang spesifik terkait kasus ini:
-Gangguan sperma secara kualitas dan jumlah yang mungkin bisa kekurangan atau mengalami kelemahan dalam segi produksi sperma dan aktivitasnya terhadap hormon testosteron sehingga mengakibatkan pematangan sel sperma tidak matang
-Kadar LH yang rendah sehingga produksi testoteron menurun secara drastis
Kadar LH yang rendah menyebabkan produksi testosteron menurun karena LH merangsang sel Leydig. Akibatnya, spermatogenesis terganggu, terutama pematangan sperma, meskipun FSH normal. Dampaknya jumlah dan kualitas sperma menurun sehingga kesuburan berkurang.
Nama: Alya Azzahra
Kelas: XI
Apabila kadar LH rendah tetapi kadar hormon FSH normal maka akan berpengaruh terhadap terganggunya produksi hormon testosteron yang dapat memicu masalah kesuburan, penurunan libido, kelelahan, dan menyebabkan penurunan kualitas sperma.
Hormon FSH berfungsi sebagai mendorong sel sertoli dalam tubulus seminiferus yang bekerja menghasilkan nutrisi bagi perkembangan sperma. Akan tetapi jika hormon LH pada pasien pria yang di check rendah maka hormon yang menstimuluskan sel-sel Leydig berada di ruang antar tubulus seminiferus untuk mensekresikan hormon Testosteron agar mendorong proses spermatogenesis untuk berjalan, tidak akan berjalan dengan baik.