top of page

KESEHATAN REPRODUKSI

Updated: Dec 27, 2025


Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, serta sosial secara utuh, bukan hanya terbebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem reproduksi baik pada fungsi ataupun prosesnya (Depkes,2001). Mengenal kesehatan reproduksi pada remaja sangatlah penting, karena masa remaja merupakan masa transisi terhadap perubahan fisik, emosi, dan psikis. Kementerian Kesehatan RI (2022) melaporkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi pada remaja (usia 10-19 tahun) menjadi krusial karena masa ini merupakan jendela peluang untuk mencegah perilaku berisiko yang berdampak pada kualitas hidup jangka panjang. Beberapa cara menjaga kesehatan organ sistem reproduksi sebagai berikut :

  1. Menjaga kebersihan organ sistem reproduksi, seperti mengganti pakaian dalam minimal 2 kali sehari dan menggunakan handuk yang lembut serta kering.

  2. Menghindari perilaku pergaulan bebas seperti seks bebas, merokok , alkohol, dll. Paparan zat kimia dalam rokok terbukti secara klinis dapat menurunkan fertilitas melalui kerusakan DNA sperma dan sel telur (Durairajanayagam, 2021).

  3.  Membentuk pola hidup yang sehat. 

  4. Menghindari pemakaian celana yang terlalu ketat dan berbahan tidak menyerap keringat. 

  5. Melakukan khitan bagi  Pria untuk menghindari resiko kanker penis dan penyakit menular seksual. Secara medis, khitan efektif menurunkan risiko penularan infeksi menular seksual (IMS) dan mencegah kanker penis dengan mempermudah pembersihan area preputium (World Health Organization [WHO], 2022).

Gangguan sistem reproduksi adalah kondisi yang terjadi akibat infeksi atau invasi oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri atau virus, yang memasuki organ-organ dalam sistem reproduksi manusia. Sistem reproduksi sendiri terdiri dari berbagai komponen, termasuk organ genital eksternal, rahim, ovarium, dan saluran reproduksi, yang semuanya memiliki peran penting dalam proses reproduksi. Sebagian besar gangguan ini sering kali terkait dengan aktivitas seksual, sehingga istilah yang umum digunakan untuk merujuk pada kondisi ini adalah PMS, atau penyakit menular seksual. Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seksual yang tidak aman, di mana bakteri atau virus berpindah dari satu individu ke individu lainnya.


  1. Gangguan pada Sistem Reproduksi Pria 

    Sistem reproduksi pria dapat mengalami gangguan akibat infeksi maupun kelainan bawaan:

    • Epididimitis, yaitu peradangan epididimis yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau PMS, sehingga menyebabkan rasa nyeri pada testis dan mengalami pembengkakan.

    • Kanker, terjadi ketika sel mengalami abnormalitas pembelahan sehingga membentuk tumor pada organ reproduksi. Umumnya terjadi pada kelenjar prostat dan testis. 

    • Hernia Inguinal, yaitu penonjolan organ perut seperti usus ke area selangkangan. Dikenal juga dengan turun bero.   

    • Ambigous Genetalia, dikenal juga dengan kelamin ganda. Hal ini ditandai dengan seorang bayi yang terlahir dengan ketidakjelasan alat kelamin. Sebagian besar bayi laki-laki terlahir dengan kelainan seperti ukuran penis yang kecil atau tidak ada tetapi memilihi jaringan testis, atau memiliki jaringan testis dan ovarium.

    • Mikropenis, yaitu kelainan ukuran penis yang dibawah ukuran rata-rata, yang dapat di tunjukkan dengan pengukuran standar. 

    • Hipogonadisme, yaitu disfungsi kerja gonad (testis), sehingga produksi hormon testosteron pada pria . Nieschlag & Behre (2021) mengungkapkan bahwa hipogonadisme pada remaja pria dapat menghambat perkembangan tanda-tanda kelamin sekunder dan massa otot.


  2. Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita

    Wanita memiliki kompleksitas hormonal yang membuat mereka rentan terhadap gangguan siklus dan jaringan:

    • Masalah Menstruasi, yaitu gangguan yang dirasa ketika siklus menstruasi  seperti  dismenore (nyeri pada bagian pinggul yang disebabkan karena aliran darah mens yang deras, mengeluarkan gumpalan darah, atau endometriosis), menorhagia (pendarahan menstruasi yang berlebihan), oligomenorhea (periode siklus menstruasi yang tidak teratur selama lebih dari 35-90 hari). Pengobatan masalah menstruasi dapat dilakukan secara perawatan pribadi atau medis. Burnet et al. (2022) menjelaskan bahwa perlu adanya manajemen nyeri haid yang tepat pada remaja sangat penting untuk mencegah gangguan aktivitas akademik dan kualitas hidup.

    • Kanker Serviks, yaitu abnormalitas pertumbuhan sel jaringan serviks yang berbentuk tidak teratur sehingga membentuk sel kanker pada permukaan serviks. 

    • Kista Ovarium, yaitu kantong berisi cairan atau semipadat yang berada di ovarium tetapi tidak bersifat kanker melainkan dapat menekan organ sekitarnya dan menimbulkan rasa nyeri.

    • Amenore,  yaitu tidak mengalami menstruasi bulanan. ada dua jenis amenore yaitu amenore primer (tidak haid setelah menginjak umur 15 tahun, tetapi telah mengalami perubahan pubertas) dan amenore sekunder (tidak haid selama 6 bulan atau lebih)

    • Endometriosis, yaitu terjadinya pertumbuhan jaringan endometrium di luar rahim seperti di area ovarium, usus, vagina, saluran kemih, atau lapisan dalam perut.

    • Keputihan, yaitu keluarnya lendir kental atau cairan bening yang tidak normal dari vagina yang disebabkan oleh infeksi bakteri yaitu Vaginosis bakterialis atau Candidiasis, jamur, ataupun virus. Tanda keputihan tidak normal yaitu mengeluarkan bau tak sedap, berwarna, atau memiliki tekstur yang berbeda dari kondisi normal, cairan keputihan keluar lebih banyak, dan mengandung darah diluar jadwal menstruasi. 


  3. Gangguan Sistem Reproduksi karena IMS

    IMS (Infenksi Menular Seksual) ditularkan melalui kontak seksual yang tidak aman dan dapat berdampak fatal jika tidak ditangani:

    • Uretritis, yaitu peradangan pada uretra yang disebabkan oleh bakteri atau virus dari infeksi hubungan seksual atau non-infeksi.

    • Gonore, dikenal juga dengan sebutan kencing nanah. Penyebabnya adalah infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae melalui  hubungan seksual. 

    • HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus melalui hubungan seksual yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Selain melalui hubungan seksual HIV dapat disebabkan oleh jarum suntik yang terkontaminasi oleh virus. Seorang yang telah mengalami HIV stadium akhir akan mengidap penyakit AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu kondisi tubuh yang sudah tidak mampu melawan infeksi HIV.

    • Sifilis, dikenal juga dengan raja singa yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini diawali dengan gejala timbulnya luka pada area kelamin, mulut, atau anus yang tidak terasa sakit, sehingga tidak disadari oleh penderita. Akan tetapi kondisi penderita yang seperti itu sudah berada pada tahap infeksi sehingga dapat ditularkan ke orang lain melalui kontak hubungan seksual atau luka. Penanganan yang kurang cepat dan tepat dapat menimbulkan kerusakan organ seperti otak, jantung, dll. bahkan  kematian janin


Sumber:

Burnet, A. M., et al. (2022). Dysmenorrhea in Adolescents: Diagnosis and Treatment Update. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology, 35(1), 2-12.

Durairajanayagam, D. (2021). Lifestyle causes of male infertility. Arab Journal of Urology, 19(1), 10–20.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia 2021. Jakarta: Kemenkes RI.

World Health Organization (WHO). (2022). Fact Sheets: Sexually Transmitted Infections (STIs). Geneva: WHO.

Comments


  • Twitter
  • Instagram
  • Facebook

© 2025

bottom of page